Feeds:
Pos
Komentar

Agama dan keshalihan

Nabi saw bersabda, “Wanita itu dinikahi karena empat hal; hartanya, keturunannya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama niscaya engkau akan beruntung.”[1]

Ini artinya, sebab-sebab yang mendorong seseorang dalam menikahi seorang wanita adalah:

– Karena ini memiliki harta yang banyak, memiliki kekayaan yang melimpah, perdagangan yang laris, atau memiliki perbendaharaan yang banyak, sehingga menikah dengannya sama dengan memperoleh harta dan kekayaan.

– Karena ia “orang keturunan”, yaitu memiliki nasab yang mulia, sehingga menikahinya berarti memperoleh kedudukan dan status sosial yang tinggi.

– Karena kecantikannya, sehingga menikahinya berarti memperoleh kenikmatan dan kesenangan.

– Atau, karena ia memiliki agama yang kokoh dan keshalihan, sehingga menikah dengannya akan mendapatkan ketenangan dan kasih sayang, kebaikan, serta saling menopang dalam melakukan ketaatan kepada Allah, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya, atau selalu memperoleh nasihat untuk selalu bertakwa kepada Allah, terdorong untuk taat kepada-Nya serta merasa takut untuk bermaksiat kepada-Nya.

Inilah yang disarankan oleh Nabi saw untuk dinikahi, karena berdampingan dengannya akan mendatangkan kemanfaatan dunia dan akhirat.

Lanjut Baca »

Ancaman yang sangat keras bagi wanita yang suka ber-tabarruj adalah bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam api neraka dan diharamkan masuk surga. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Ada dua macam penghuni neraka yang belum pernah aku lihat, suatu kaum yang membawa cambuk (cemeti) seperti ekor sapi yang mereka gunakan untuk mencambuki manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berjalan sambil melenggak-lenggokkan (pinggulnya) dan kepala-kepala mereka laksana punuk onta yang melenggak-lenggok. Sekali-kali mereka tidak akan pernah masuk surga dan juga tidak akan pernah mencium baunya padahal bau surga bisa tercium dari jarak perjalanan seperti ini dan ini.” (HR. Muslim dalam shahihnya, juz VI hal 168).

Tabarruj adalah perilaku seorang wanita yang mempertontonkan perhiasan dan kecantikannya maupun hal-hal lain yang dapat menimbulkan fitnah dari tubuhnya kepada laki-laki yang bukan mahramnya, memamerkan baju dan perhiasannya serta memamerkan diri, baik dengan gaya berjalannya, lenggak-lenggok (pinggul) maupun aroma tubuhnya di hadapan mereka. (Tafsir Ayatul Hijab, karya Asy-Syaik Abu Ala Al Maududy hal : 13)

Banyak ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Nabi saw yang secara tegas mengharamkan tabarruj. Sebagaimana Firman Allah SWT :

“Hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah dahulu….” (Al-Ahzab : 33)

Banyak syariat yang secara tegas menyuruh kaum wanita agar berdiam diri di rumah dan menahan diri secara maksimal agar tidak keluar dari rumahnya kecuali untuk keperluan yang mendesak. (Tafsir Qurtuby juz 14 hal 179)

Sedang maksud firman Allah, “.. dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu..” adalah, “Janganlah kalian keluar rumah dengan mempertontonkan kecantikan dan bau wangi tubuh kalian seperti tradisi orang jahiliyah terdahulu.” (Ibid hal 180).

Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya wanita adalah aurat, oleh karena itu apabila ia keluar (rumahnya tanpa disertai mahramnya), maka syetan akan menghiasinya.” (HR Al Bazzar dan Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah aku tinggalkan setelahku suatu fitnah yang lebih berbahaya bagi kaum laki-laki daripada para wanita.” (Mutafaqun alaih)

Dan sabda beliau saw : “Berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah yang pertama kali terjadi pada Bani Israil adalah fitnah wanita.” (HR. Muslim)

Wallahu musta’an. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan fitnah-fitnah yang nampak maupun yang tidak nampak (tersembunyi).

Dari Abdullah bin Umar bahwasanya Rasulullah saw bersabda:

Ada tiga golongan yang Allah tidak sudi melihat kepada mereka pada hari kiamat, yaitu; orang yang duhraka kepada kedua orang tuanya, seorang perempuan waria (yang berperilaku seperti laki-laki), dan Dayuts (bapak dan suami yang membiarkan terjadinya perbuatan mesum dalam rumahnya).”

Sebuah hadits shahih menyebutkan bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

“Allah melaknat wanita-wanita yang menyerupai (dalam berpakaian dan bersikap) pria, dan juga pria-pria yang menyerupai wanita[i].”

Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah saw. bersabda:

“Allah melaknat perempuan yang berpakaian dengan pakaian laki-laki dan laki-laki yang berpakaian dengan pakaian perempuan.(Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Abu Dawud)

Apabila seorang perempuan memakai pakaian yang biasa dipakai oleh orang laki-laki, seperti model baju atau celana panjang, atau lengan yang sempit, maka ia telah menyerupai laki-laki dalam hal pakaian dan dengan demikian ia berhak atas laknat dari Allah dan Rasul-Nya. Jika perempuan itu telah bersuami, sedangkan suaminya itu mendiamkannya atau malah ridla terhadapnya dan tidak melarangnya, maka si suami juga terkena laknat. Sebab salah satu kewajiban suami adalah membimbing istri menuju ketaatan kepada Allah dan melarangnya dari perbuatan maksiat. Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS. at-Tahrim : 6)

Maksud ayat di atas ; didiklah, ajarilah, dan perintahkanlah mereka supaya taat kepada Allah, dan laranglah mereka serta berbuat durhaka kepada Allah, demikian pula hal itu wajib bagi dirimu sebagai hak dirimu.

Hal ini sesuai juga dengan sabda Nabi saw.:

“Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka yang dipimpinya. Seorang laki-laki itu pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka pada hari kiamat.” (Hadits riwayat Bukhari-Muslim dari Abdullah bin ‘umar)

Dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Ingatlah, kaum lelaki akan binasa dikala mereka mentaati wanita.”

Al-Hasan berkata, “Demi Allah, tidaklah seorang laki-laki tunduk kepada istrinya dalam segala hal yang diinginkannya kecuali Allah ta’ala akan menelungkupkannya di dalam neraka.”

Dalam hadits lain, Nabi saw. bersabda,

“Dua macam calon penghuni neraka yang belum aku lihat (sekarang), yaitu; orang yang mempunyai cambuk seperti ekor sapi, yang dengan cambuk itu ia memukuli orang-orang dan wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga tampak warna kulitnya, yang berlenggak-lenggok dalam berjalan, serta memakai sanggul yang tebal di rambutnya (wig), mereka tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium harumnya surga, padahal harumnya itu terciaum dari jarak sekian sekian!” (Hadits riwayat Muslim)

Nafi’ berkata, “Ketika Ibnu ‘Umar dan Abdullah bin ‘Amru sedang berada di tempat Zubair bin Abdul Muththallib, tiba-tiba datang seorang perempuan menggiring kambing sambil bersandar pada sebuah busur. Kemudian Abdullah bin ‘Umar bertanya, “Kamu ini laki-laki atau perempuan?” Wanita itu menjawab, “Perempuan.” Lalu Ibnu ‘Umar berpaling kepada Ibnu ‘Amru sambil berkata, “Sesungguhnya Allah ta’ala melalui lisan Nabi-Nya, telah melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan laki-laki yang menyerupai wanita.”

Di antara perbuatan-perbuatan yang apabila dikerjakan oleh wanita, ia akan mendapat kutukan adalah menampakkan perhiasan emas, mutiara atau yang lainnya dari balik cadar, memakai wewangian atau parfum jika keluar rumah, memakai pakaian-pakaian yang ketat dan merangsang ketika keluar rumah, dan lain-lain. Semua itu termasuk tabarruj yang dibenci oleh Allah, dan Allah membenci orang-orang yang melakukannya di dunia dan di akhirat. Perbuatan-perbuatan yang sudah banyak dilakukan oleh kaum wanita ini, Rasulullah saw. bersabda tentang mereka, “Aku pernah melihat ke neraka, maka kulihat kebanyakan penghhuninya adalah wanita.”

Beliau juga bersabda, “Tidaklah kutinggalkan sesudahku suatu fitnah yang lebih membahayakan kaum lelaki dari pada wanita.”

Semoga Allah menjaga kita dari fitnah tersebut, dan semoga pula Allah memperbaiki keadaan mereka, juga keadaan kita dengan karunia dan kemurahan-Nya.



Menyempurnakan Dien

Pernikahan adalah separuh perjalanan hidup seorang muslim. Hal tersebut menjadi alasan baginya untuk mendapatkan yang terbaik. Seorang muslim hendaknya beristikharah dalam menentukan pasangan hidupnya. Istikharah dengan melakukan sholat dua rakaat dan membaca doa istikharah yang diajarkan Rasulullah saw.

Dalam buku Nahnu al mu’ammirun ‘Rahasia panjang Umur’ disebutkan, “Percayalah, pernikahan adalah hal terbaik yang bisa membuat umur panjang dan mewujudkan sebuah kehidupan yang tenteram dan sentosa.”

Seorang direktur rumah sakit jiwa di New York, Dr. Helberg, mengatakan bahwa perbandingan jumlah pasien rumah sakit yang dikelolanya, antara yang menikah dan yang belum adalah satu berbanding empat.

Sebuah penelitian lain menyebutkan bahwa upaya bunuh diri lebih banyak dilakukan oleh mereka yang belum menikah ketimbang yang telah menjalani kehidupan rumah tangga. Disebutkan pula bahwa orang yang telah menikah lebih memiliki keseimbangan dalam berpikir dan berperilaku. Mereka hidup lebih tenang dan tidak terkena beragam penyakit yang timbul akibat perilaku seksual menyimpang.

Para wanita yang menikah juga diteliti berhasil meningkatkan rasio harapan hidup mereka meski direpotkan dengan berbagai persoalan yang timbul dalam mengurus anak dan kehidupan rumah tangga lainnya. Jumlah mereka jauh lebih besar dibandingkan dengan wanita yang belum menikah.

“Mereka (perempuan) adalah pakaian bagi kalian dan kalian (laki-laki) adalah pakaian bagi mereka (al baqarah : 187)

Hubungan laki-laki dan wanita sangatlah dekat, keduaya menyatu meski terdiri dari tubuh dan jiwa yang berbeda. Pada satu momen, salah satu dari keduanya melebur pada pasangannya hingga tidak ada batas lagi yang bisa dikenali antara satu sama lain. Keduanya akan selalu berusaha meraih hubungan erat tersebut yang menyerupai kesatuan antara pakaian dan pemakainya.

Keduanya akan melindungi satu sama lain, baik secara fisik, emosi maupun psikologis. Adakah dua orang yang saling melindungi satu sama lain melebihi apa yang dilakukan oleh sepasang suami istri yang saling mencinta? Seorang suami atau istri akan selalu melindungi pasangannya, harta, jiwa atau bahkan rahasianya sekalipun. Keduanya juga akan saling melindungi belahan jiwanya dari keterpurukan, perbuatan keji dan jahat, persis seperti fungsi pakaian yang melindungi pemakainya dari pandangan keji orang lain yang tidak berhak.

Kemuliaan wanita salihah

Ummu Salamah bertanya kepada Rasulullah saw, “Manakah yang lebih baik, wanita dunia ataukah bidadari ?”

Rasulullah menjawab, “Wanita-wanita dunia tentu lebih baik daripada bidadari-bidadari itu sebagaimana halnya pakaian luar lebih baik daripada pakaian dalam.”

Ummu Salamah kembali bertanya, “ Bagaimana itu bisa terjadi, wahai Rasulullah? Dengan apa?”

Rasulullah menjawab, “Dengan shalat, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Wajah-wajah mereka bersinar penuh cahaya, tubuh-tubuh mereka terbalut pakaian sutra. Kulit mereka putih, pakaian mereka hijau, perhiasan mereka kuning keemasan. Perapian mereka terbuat dari permata, sisir mereka terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kamilah yang abadi, kami tidak akan pernah mati. Kami selalu berbahagia, tak pernah kami berputus asa. Kami selalu tinggal di sini, tidak pernah kami berjalan keluar. Kami selalu rela, tidak pernah kami marah. Beruntunglah orang yang memiliki kami dan dimiliki oleh kami.” (HR. Thabrani. Hadits ini dhaif)

Nasihat Ummu Iyas

Nasihat Ummu Iyas kepada puterinya menjelang pernikahannya :

“Puterkiu ! Jika ada wanita yang tidak membutuhkan suami karena merasa kaya, maka akulah orang yang paling kaya itu. Tetapi wanita diciptakan untuk laki-laki dan laki-laki diciptakan untuk wanita.

Puteriku! Lakukanlah sepuluh hal yang akan membuatmu bangga.

Pertama dan kedua, hiduplah bersama suamimu dengan ridha dan qanaah ! Dengar dan taati ia.

Ketiga dan keempat, peliharalah penciuman dan pandangannya ! Usahakanlah agar ia senantiasamencium dan melihat hal-hal yang paling baik dari dirimu.

Kelima dan keenam, jangan kauganggu tidurnya dan jangan pula kau biarkan ia menanggung lapar ! Rasa lapar dan gangguan pada saat tidur bias membuatnya marah.

Ketujuh dan kedelapan, jagalah harta, pembantu, dan keluarganya.

Kesembilan dan kesepuluh, jangan pernah engkau membantahnya dan jangan sekali-kali engkau bocorkan rahasianya. Membantah perintahnya hanya akan membuatnya marah. Dan membocorkan rahasianya akan membuatnya mendendam. Jika ia sedih, engkaulah yang membuatnya gembira. Jika ia gembira, engkaulah yang mengingatkannya.”

(Sumber : Fiqih Wanita, Muhammad Mutawwali Aya’rawi, penerbit Pena)